Kompas,Senin, 8 Februari 2010 | 03:24 WIB
Bramanian Surendro
Laju inflasi akhir tahun 2009 yang hanya 2,78 persen (tahunan) merupakan
salah satu figur inflasi terendah dalam sejarah Indonesia. Sejak tahun 1970,
hanya ada dua periode dengan laju inflasi tercatat lebih rendah, yaitu tahun
1971 yang mencapai 2,56 persen dan tahun 1999 sebesar 2,01 persen.
Namun, publikasi data inflasi bulan Januari oleh Badan Pusat Statistik
beberapa waktu lalu menyiratkan bahwa tekanan inflasi mulai kembali meningkat.
Bagaimana prospek inflasi untuk beberapa waktu mendatang? Bagaimana pula
dampaknya terhadap arah kebijakan moneter bank sentral?
Sepanjang Januari terjadi inflasi sebesar 0,84 persen. Besaran inflasi
itu lebih tinggi dari estimasi banyak pihak, yang memperkirakan inflasi akan
berada di kisaran 0,50 persen.
Sebenarnya, pada kondisi normal (bukan krisis atau pascakrisis), tekanan
inflasi di akhir atau awal tahun memang cenderung meningkat.
Pada 2005-2008, inflasi yang terjadi pada Januari selalu berada di atas
1 persen. Pada 2005 sebesar 1,43 persen, pada 2006 sebesar 1,36 persen, tahun
2007 sebesar 1,04 persen, dan tahun 2008 sebesar 1,7 persen.
Beras biasanya jadi komoditas utama yang memengaruhi tekanan inflasi
pada bulan Januari. Pada Januari 2010, beras memberi andil inflasi 0,35 persen.
Pada Januari 2009, beras masih memberi andil inflasi sebesar 0,06 persen
meski secara umum terjadi deflasi pada waktu itu. Seterusnya, untuk 2005-2008,
beras umumnya selalu menjadi komoditas yang memberi andil terbesar terhadap
total inflasi pada Januari.
Selain di Indonesia, peningkatan tekanan inflasi juga mulai dialami oleh
negara-negara lain. Di beberapa negara, naiknya laju inflasi bahkan mulai
terasa sejak pertengahan 2009 (Gambar 1).
Apabila pada periode krisis yang lalu beberapa negara mengalami fase
deflasi, saat ini secara umum negara-negara itu sudah kembali mengalami
inflasi, termasuk Amerika Serikat, China, zona Uni Eropa, dan beberapa
negara-negara tetangga.
Inflasi tahunan di AS pada Desember 2009 bahkan mencapai 2,82 persen
(tren inflasi jangka panjang di AS kira-kira berada di 2-3 persen).
Memang masih ada beberapa negara yang saat ini berada dalam periode
deflasi. Jepang, misalnya, hingga Desember 2009 masih mengalami deflasi yang
cukup dalam sebesar 1,68 persen (tahunan). Singapura juga masih mengalami
deflasi sampai Desember 2009.
Sejumlah indikator menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Indonesia
berpotensi untuk terus meningkat dalam beberapa waktu mendatang.
Peningkatan aktivitas ekonomi itu sangat mungkin mendorong naiknya daya
beli masyarakat. Naiknya daya beli masyarakat memberi insentif bagi pengusaha
untuk menaikkan harga jual produk, yang pada akhirnya berdampak pada naiknya
tekanan inflasi.
Oleh karena itu, dampak lemahnya sisi permintaan yang mengurangi tekanan
inflasi sepanjang 2009 sepertinya sulit untuk berlanjut pada tahun ini.
Inflasi kemudian berpotensi kembali ke level yang selaras dengan tren
jangka panjangnya. Data historis menunjukkan bahwa tren inflasi dalam kondisi
normal di Indonesia berada di kisaran 6-6,5 persen.
Data historis juga menunjukkan bahwa shock kebijakan (terutama kenaikan
harga bahan bakar minyak bersubsidi) yang diambil pemerintah pasti merusak tren
itu. Pada 2005 dan 2008 pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi yang kemudian
membuat laju inflasi melambung tinggi.
Untuk 2010, potensi terjadinya kenaikan harga BBM bersubsidi sepertinya
masih cukup kecil. Harga minyak dunia memang diperkirakan naik sejalan dengan
naiknya permintaan.
Namun, banyak pihak meyakini bahwa suplai minyak dunia masih dapat
memenuhi kenaikan permintaan yang umumnya berasal dari negara-negara yang masih
mengalami pemulihan aktivitas ekonomi.
Sampai awal Februari, Energy Information Administration (EIA) di AS
memprediksi harga minyak pada akhir 2010 akan mencapai 82 dollar AS per barrel
dengan rata-rata harga sepanjang tahun mencapai 79,8 dollar AS per barrel.
Beberapa lembaga lain yang lebih pesimistis memperkirakan harga minyak
akan mencapai 90 dollar AS per barrel. Dengan skenario kenaikan harga minyak
seperti di atas, opsi kenaikan BBM sepertinya masih dapat dihindari pemerintah
pada 2010.
Dengan skenario itu pula, Danareksa Research Institute memperkirakan
pola laju inflasi pada 2010 akan bergerak seperti ditunjukkan pada Gambar 2
(warna merah menunjukkan perkiraan).
Tekanan inflasi diperkirakan masih relatif tinggi pada Februari dan akan
turun pada Maret dan April sejalan dengan dimulainya masa panen raya.
Tekanan inflasi kemudian akan kembali meningkat dan mencapai puncaknya
antara Agustus dan September 2010 (bersamaan dengan bulan Ramadhan). Secara
keseluruhan, Danareksa Research Institute memperkirakan laju inflasi tahunan
pada 2010 akan mencapai 6,01 persen.
Fase pemulihan
Pada periode krisis lalu, otoritas moneter di banyak negara umumnya
menerapkan kebijakan moneter longgar. The Fed di AS, misalnya, menjalankan
kebijakan tersebut dengan menurunkan suku bunga acuan hingga mendekati 0
persen.
Selain itu, The Fed juga membeli obligasi Pemerintah AS dalam jumlah
besar (yang berarti menyuntikkan uang ke sistem keuangan).
Dampaknya, monetary base (uang primer atau M0) dan suplai uang (M1)
melambung tinggi sejak pertengahan 2008.
Fase pemulihan yang masih berlangsung dan perlu dijaga membuat bank-bank
sentral di dunia secara umum belum mengubah arah kebijakan moneter secara
signifikan meski pada beberapa kasus suku bunga efektif sudah negatif karena
laju inflasinya sudah lebih tinggi dari suku bunga acuan.
Penurunan angka pertumbuhan suplai uang yang terjadi di beberapa negara,
seperti yang terjadi di AS, sepertinya lebih disebabkan oleh faktor base effect
dan bukan perubahan arah kebijakan moneter bank sentral.
Bagaimana dengan prospek kebijakan moneter di Indonesia? Agak sulit
dijawab karena rangkaian kebijakan Bank Indonesia (BI) seperti bertolak
belakang beberapa waktu lalu.
BI memang menurunkan suku bunga acuan sampai 6,5 persen (tampak
melonggarkan kebijakan moneter).
Namun, pada saat yang sama BI juga membatasi pasokan uangnya ke sistem
dengan menyerap banyak dana perbankan dengan penerbitan instrumen Sertifikat
Bank Indonesia (memperketat kebijakan moneter).
Beberapa indikator kemudian menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan
moneter yang dicanangkan BI sebenarnya belum berhasil tercapai.
Indikator tersebut misalnya pertumbuhan negatif uang primer (M0), suku
bunga pinjaman yang sulit turun, dan pertumbuhan kredit yang terus menurun.
Tekanan inflasi yang kembali meningkat pada tahun 2010 tentu membatasi
ruang BI untuk mempertahankan suku bunga acuan di level yang rendah.
Sampai dengan semester I-2010, laju inflasi diperkirakan masih akan
berada di kisaran 5 persen.
Oleh karena itu, sampai dengan pertengahan tahun 2010, BI kemungkinan
besar masih dapat mempertahankan suku bunga acuan pada level yang sekarang.
Tentu perlakuan terhadap suku bunga acuan perlu dibarengi dengan
pengelolaan yang sesuai atas instrumen moneter pendukung, misalnya penerbitan
Sertifikat Bank Indonesia.
Hal ini penting agar kebijakan moneter yang digariskan BI dapat
benar-benar berdampak seperti yang diharapkan.
Dengan pengelolaan yang tepat, tingkat likuiditas di sistem keuangan
akan tetap terjaga. Kondisi ini akan mempermudah perbankan menjalankan fungsi
intermediasinya.
Dengan dukungan yang cukup dari perbankan, pemulihan dan peningkatan
aktivitas ekonomi yang sedang berlangsung tentu akan lebih optimal.
Bramanian Surendro Danareksa Research Institute; Ekonom
|