Jumat, 12 Maret
2010 | 03:44 WIB
Jakarta, Kompas
- Pada tahun ini pemerintah berjanji tidak akan menaikkan harga bahan bakar
minyak. Syaratnya, asumsi harga jual minyak, nilai tukar rupiah, dan volume
konsumsi BBM sesuai dengan rencana dalam Rancangan APBN Perubahan atau RAPBN-P
2010.
Namun,
pemerintah mengusulkan agar harga BBM dapat dinaikkan jika harga jual minyak
mentah Indonesia melonjak 10 persen dari asumsi dalam APBN-P 2010, yakni 77
dollar AS per barrel.
”Sepanjang semua
asumsi itu berjalan, BBM tidak akan naik. Jadi, masyarakat harap tetap tenang
dan saya akan mengelola APBN secara prudent (hati-hati),” ungkap Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Kamis (11/3).
Dalam Rancangan
Undang-Undang APBN-P 2010 disebutkan adanya perubahan Pasal 7 Ayat 3, yakni
dalam hal perkiraan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesia crude
price/ICP) dalam satu tahun melonjak lebih dari 10 persen dari harga yang
diasumsikan APBN-P 2010, pemerintah diberi kewenangan untuk menyesuaikan harga
BBM bersubsidi.
Ini artinya,
batas atas ICP yang memungkinkan harga BBM tidak naik adalah 84,7 dollar AS per
barrel.
Kepala Badan
Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu juga menyatakan bahwa APBN 2010 diperkirakan
akan tetap aman hingga harga minyak mentah Indonesia naik ke level 85 dollar AS
per barrel.
Jika rata-rata
harga jual minyak mentah Indonesia atau ICP lebih tinggi 1 dollar AS per barrel
dari angka yang diasumsikan, tambahan defisit pada APBN 2010 diperkirakan akan
berada pada kisaran Rp 0 triliun hingga Rp 0,1 triliun.
Dengan demikian,
jika ICP bertahan pada level 85 dollar AS per barrel sepanjang tahun 2010,
defisit APBN 2010 akan melonjak sekitar Rp 1,5 triliun.
Belum pasti
Direktur
Eksekutif Institute Reforminer (Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan
Energi) Priagung Rahmanto mengatakan, kemungkinan naiknya harga minyak ke level
85 dollar AS per barrel masih belum pasti.
Di satu sisi,
harga minyak cenderung naik karena pulihnya perekonomian dunia. Namun, di sisi
lain, secara fundamental, hal itu tidak akan menyebabkan kurangnya pasokan
karena kapasitas OPEC masih besar, yakni sekitar 4-6 juta barrel per hari.
”Cadangan OPEC
itu sewaktu-waktu akan dilepas ke pasar sehingga, kalaupun ekonomi global
pulih, kenaikan harganya tidak akan terlalu jauh dari kisaran 80-85 dollar AS
per barrel. Masih bergantung pada respons OPEC juga nantinya,” ujarnya.
Sementara itu,
ekonom Danareksa Research Institute, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan, melihat
kecenderungan harga minyak dalam puluhan tahun terakhir, harga minyak akan
bergerak di kisaran 60-80 dollar AS per barrel. (OIN)
|